Kalsifikasi membuat arteri yang semestinya lentur berubah kaku sehingga proses membuka sumbatan menjadi lebih sulit dan berisiko.
Penumpukan kalsium itu terjadi dari kolesterol yang sudah lama berada di pembuluh darah. “Kalau lihat gambar ini, ada banyak titik-putih. Itu kalsium. Kalsium ini dari kolesterol yang sudah lama berada di sini. Jika makin besar, dia bisa menyebabkan penyempitan aliran darah,” ujar Dokter Konsultan Kardiologi Suren Thuraisingham yang ditemui Jawa Pos di Cardiac Vascular Central Kuala Lumpur (CVSKL), Malaysia. Saat itu, Suren sedang berdiskusi dengan timnya terkait kondisi jantung seorang pasien.
Dia juga menyoroti bahwa semakin lama pembentukan arteri tim mengalami penyumbatan. Menurut dia, bila sumbatan mencapai lebih dari 60–70 persen, pasien perlu menjalani intervensi seperti pemasangan ring.
Untuk pemasangan ring, Suren menyebutkan, rotablator mulai jarang digunakan. Menurut dia, metode yang sudah digunakan sejak 30 tahun lalu itu bekerja dengan mengikis plak kalsium menggunakan bur kecil yang berputar cepat di ujung kateter. Setelah plak dihilangkan, aliran darah bisa kembali meningkat ke jantung.
“Itu caraawatan untuk mengeluarkan, membuang kalsium, untuk melembutkan saluran itu, kan dia macam batu. Ini adalah salah satu untuk merawat penyumbatan saluran yang ada plak kalsium,” terangnya.
Meski efektif, rotablator memiliki risiko komplikasi. Bila pengoperasiannya kurang presisi, lanjutnya, bur dapat menyebabkan robekan pada dinding arteri dan memicu perdarahan.
Namun, dengan kemajuan teknologi, saat ini sudah ada alat baru untuk mengeluarkan penumpukan kalsium di jantung. “Sekarang kita ada alat baru, jadi sekarang jarang kita menggunakan rotablator kerana menggunakan balon yang ada countershock wave (gelombang kejut balik). Ini memberikan tekanan bum bum bum dari sistem hidrolik dan bisa pecahkan kalsium,” terangnya.
Saat ini, ada jenis balon (balloon) terbaru yang menggunakan teknologi gelombang kejut. Ketika balon ini dikembangkan, kalsium akan pecah. “Ini balon LithiX dan kami (CVSKL, Red) adalah rumah sakit pengguna ini terbesar di dunia masa ini,” jelas Suren.
Lebih lanjut, Suren menambahkan, efektivitas prosedur menggunakan balon LithiX sangat besar, setara dengan rotablator. Namun, tanpa efek bahaya dari rotablator.
Suren mencatat, selain pasien Malaysia, banyak pasien Indonesia yang sudah melakukan prosedur balon LithiX itu. “Ramai, ada beberapa (yang melakukan prosedur LithiX), kurang ancaman—macam 60–70 (tahun), penumpukan kalsium di jantung biasanya terkait dengan umur,” kata Suren, Rabu (26/11).
Dibuka pada November 2017, CVSKL merupakan rumah sakit khusus jantung dan pembuluh darah dengan fasilitas modern dan layanan lengkap. Mulai dari diagnostik, terapi, hingga tindakan preventif. Berlokasi strategis di kawasan Kuala Lumpur Sentral, RS ini mudah diakses melalui berbagai moda transportasi. CVSKL memiliki enam program utama. Antara lain, diagnostik jantung, aritmia, jantung-paru, jantung struktural, vaskular & endovaskular, serta CHIP (complex high-risk indicated procedures). (rya/oni)
